Rencana Besar

Malam itu terlalu cepat bagiku, setelah seharian masuk kuliah badan terasa lemas mengingat belum sesuap nasipun masuk ke mulut. berteman rokok dan kopi beserta kawan satu kos berjejer duduk diam membisu mengingat rencana besar yang akan kami lakukan. Salah satu temanpun berkata memecah kesunyian, " eh .. emang tagihan listrik bulan kemarin berapa?" teman yang lain menjawab, " 65.700 ,," dengan tegas dia menjawab. 3 kali lipat lebih mahal dari bulan sebelumnya. Aku selaku penanggung jawab atas semua keuangan dalam kos merasa berat untuk menjawab pertanyaan yang sudah terjawab. akhirnya malam itu kami putuskan untuk merencanakan sesuatu yang besar. sesuatu yang dilarang pemerintah dan agama. semisal rencana ini dilakukan maka PLN akan sangat dirugikan dengan rencana besar ini.

Memang malam itu malam yang sangat melelahkan, begitu juga teman teman. Akhirnya rencana besar yang sudah matang untuk dijalankan diputuskan untuk dipending telebih dahulu. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, satu persatu dari kami mencoba untuk memejakan mata kembali ke kamar masing masing mengingat besok masih banyak agenda yang meski kudu dipenuhi. Kamipun terlelap oleh heningnya malam, sayup lirih masih terdengar obrolan kecil dari temen yang ternyata masih asik berdiskusi yang kemudian tidak terdengar lagi.

Pagi menjelang, suara adzan terdengar dimana mana. Tapi tidak olehku, suara tersebut cuma sekedar numpang lewat dan segera melanjutkan di alam bawah sadar yang semakin memikat.

Tak sempat memakai baju lansung keluar dari dalam kamar, untung masih memakai celana. Galon bertuliskan MQ jatuh di lantai berlapis karpet hitam kasar, helm yang sengaja aku taruh di atas sengaja membuatku terbangun, “grubag !!” begitu suaranya. Aliran listrik padam seketika, ditandai dengan seperangkat alat elektronik bernama komputer sudah tidak menyala, memang semalem belum sempat dimatikan. Gedung kos sebelah abruk, rata dengan tanah. Malah satu diantara temen kos sebelah jatuh dan terkubur puing puing gedung. Ambulace darurat hilir mudik di jalanan, orang orang berlarian karna salah satu keluarga mereka sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Gema takbir pujian kepada sang khalik disebut sebut, mengingat bertapa hebatnya peristiwa saat itu. Ternyata pagi itu Jogja telah terkena musibah yang dahsat. Gempa saat itu mengguncang tanah jawa, Jogja adalah pusatnya. Isu meletusnya gunung merapi sudah tidak dihiraukan lagi, isu yang sangat dikhawatirkan cepat sekali dilupakan. Begitulah alam, dia hanya berpihak pada sang khalik. Hari itu Jogja menangis, segala macam aktifitas diliburkan. Korban terlalu besar jumlahnya. Belum sempat mereka mananak nasi, sudah dikuatirkan dengan gempa susulan. Trauma gempa besar masih menghantui.

Mengingat rencana semalam, ternyata rencana besar itu hanya milik tuhan, dia yang maha segala-galanya dia maha tahu, sebesar apaun rencana kita tetaplah Tuhan yang menentukan. Tak ada yang dapat terlepas darinya. Semoga rencana baik kita sejalan dengan rencana besar Tuhan .Amiiiiin


Nb : Peringatan 3 tahun gempa jogja

versi pdf : http://www[dot]ziddu[dot]com/download/4681635/RencanaBesar[dot]pdf[dot]html

Subscribe to receive free email updates: